PENYADARAN dan PEMBEBASAN
Perkenalan singkat dengan filsafat pendidikan Paulo Freire
(kritik terhadap filsuf Paulo Freire)
Pertanyaan sekaligus pernyataan yang akan saya nyatakan pertama kali dan kemudian akan langsung saya jawab adalah tentang kemerdekaan. Apakah kemerdekaan itu sepenuhnya akan tercapai? Tidak, merdeka hampir sepenuhnya tidak akan tercapai, yang namanya kemerdekaan tidaklah sepenuhnya merdeka pasti ada saja yang masih merasa tertindas. Hal ini berangkat dari gagasan yang di paparkan paulo freire yang merupakan gagasan dimana ia menginginkan manusia menemukan bentuk idealnya dengan tidak ada yang menindas dan tertindas dengan kata lain menjadi manusia yang merdeka.
Harapan freire adalah manusia dapat merdeka yaitu dengan penyadaran dan pembebasan, namun menurut saya apabila manusia merdeka maka akan terjadi kekacauan/ketidakteraturan karena manusia menganggap bahwa untuk menyatakan kemerdekaannya manusia dapat melakukan sesuatu apapun tanpa ada yang menghalanginya, dengan kata lain tetap saja harus ada aturan yang mengikat, meski paraturan itu kadang tetap saja membuat manusia tertindas oleh peraturan yang ada.
Dengan membaca tulisan yang dipaparkan freire, saya merasa menjadi sadar bahwa saya harus ikut meningkatkan taraf hidup manusia yang menganggap dirinya tertindas. Freire mengajak pembaca untuk sadar dan menyadarkan diri manusia itu sendiri menuju kemerdekaan yang dianggapnya ideal. Meskipun saya adalah salah satu orang yang merasa masih meragukan beberapa pernyataan paulo freire.
Kesadaran yang dipaparkan disini merupakan suatu bentuk kritis manusia menanggapi realitas yang dihadapi dirinya, sehingga manusia tidak begitu saja mengikuti atas apa yang diberikan, namun juga dapat mengemukakan atas apa yang ia inginkan. Freire memperlihatkan bentuk ideal yang seharusnya dimiliki maupun dilakukan manusia, namun relita yang terjadi tidaklah seperti yang ia paparkan, dia berkeinginan manusia menjadi seideal yang ia paparkan.
Melalui pendidikan Freire merumuskan gagasan-gagasannya. Pendidikan mapan pada saat ini menjadikan manusia sebagai aset ekonomis. Adanya kenyataan tersebut diindikasikan sebagai korban perpolitikan pengambil kebijakan yang memiliki kepentingan tertentu. Apabila itu terjadi maka permasalahan yang terjadi pada dunia pendidikan indonesia saat ini merupakan salah satu bentuk perpolitikan yang dibentuk oleh para pengambil kebijakaan.
Freire menyatakan bahwa pendidikan pada bentuk idealnya adalah antara guru dan murid merupakan subyek dan subyek, sehingga antara keduanya melakukan kegiatan pembelajaran melalui proses pengalaman masing-masing untuk dapat saling berbagi satu sama lain. Jadi tidak terdapat garis pemisahan antara guru dan murid. Pemisahan yang dimaksudkan disini ialah guru sebagai pemateri dan murid sebagai penerima saja.
Gagasan freire telah terbukti keabsahannya di negara dunia ketiga. Pertanyaan yang muncul adalah: apakah dinegara maju juga melalui proses ini untuk dapat dikatakan negara maju dalam konteks masa kini? Apakah di negara dunia ketiga harus melampaui proses ini untuk dapat dikatakan negara maju?
Dari apa yang dipaparkan ia ingin keluar dari konsep ketuhanan, yang mana ia ingin menuju pada konsep humanisasi (manusia sebagai pusat). Konsepnya merupakan suatu perbandingan (kaitannya dengan penerapan yang di paparkan) antara negara maju dengan negara dunia ketiga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar