Bicara soal gender terlintas di benak kita bahwa gender selalu identik dengan perempuan. Namun, sebenarnya gender merupakan suatu konsep yang selalu berusaha membicarakan masalah-masalah sosial laki-laki dan perempuan secara seimbang. Walaupun selama ini terkesan yang dibicarakan hanyalah soal perempuan yang demi memperjuangkangkan hak-haknya karena selama ini dianggap bahwa perempuan masih dibawah laki-laki. Konsep gender itu sendiri dibangun atas sosio kultural dimana hal itu berlangsung terus menerus, berkembang dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat serta sudah melekat didalam masyarakat itu sendiri . Dalam hal ini seorang laki-laki dikenalkan untuk menjadi sosok orang yang kuat, jantan, perkasa, pemberani, rasional, tegas. Sedangkan sosok seorang perempuan dikenalkan kemayu, keibuan, lemah-lembut, apa adanya, emosional, manja, irasional, narimo yang mana sebenarnya sifat-sifat tersebut dapat dipertukarkan satu sama lain. Artinya ada saja laki-laki yang kemayu, lemah lembut, keibuan, tak lain halnya juga parempuan juga ada yang kuat, perkasa, kebapakan, tegas, serta pemberani tanpa harus bertukar jenis kelamin.
Perbedaan gender seharusnya bukanlah menjadi masalah selama hal ini tidak menyebabkan ketidakadilan gender. Namun pada kenyataannya perbedaan gender ini telah menghasilkan suatu ketidakadilan pada kaum laki-laki maupun perempuan akan tetapi ketidakadilan ini lebih banyak terjadi pada kaum perempuan. Dapat kita lihat dari beberapa bentuk ketidakadilan yang sering terjadi pada perempuan antara lain beban kerja yang ditimpakan pada perempuan lebih banyak porsinya dibandingkan kaum laki-laki, tidak hanya mengasuh anak, mencuci, menyiapkan segala keperluan keluarga bahkan ada yang sampai membantu suami mencari nafkah keluarga. Akan tetapi apabila seorang suami telah melaksanakan kewajibannya mencari nafkah kebanyakan waktu dari mereka untuk beristirahat. Cukup jelas disini bentuk ketidakadilan yang terjadi. Pernahkah terbayangkan oleh kita jikalau pekerjaan domestik perempuan seperti memasak, mencuci, mengurus anak dan lain sebagainya yang setiap hari dilakukan oleh mayoritas perempuan dinilai dengan uang, maka sulit kita bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan oleh laki-laki untuk membayar semua itu. Hal-hal kecil seperti inilah yang kadang sering luput dari pikiran kita.
Peran gender bahkan telah diperknalkan sejak bayi lahir, tak lepas juga dari peran keluarga, sekolah, maupun masyarakat dalam mensosialisasikan peran gender ini. Bayi perempuan diberikan pakaian-pakaian yang berwarna cerah, muda, terang, serta lembut, seperti pink, oranye, kuning dan sebagainya serta saat masih kecil dibagian telingannya dilubangi untuk memasang perhiasan. Bayi perempuan diperlakukan secara lembut, dimanja, disayang-sayang, dielus, diproteksi sejak bayi baru saja lahir hingga dewasa seakan-akan dunia luar terlalu berbahaya bagi kaum perempuan. Sementara bagi bayi laki-laki dipilihkan warna-warna yang tajam seperti merah, biru, hitam, abu-abu, dan lain sebagainya. Ketika bayi laki-laki menangis orang tua mereka mengatakan “ anak laki-laki tidak boleh menangis”, serta saat mereka merasa kesakitan orang tua mereka mengatakan “ tidak apa-apa sebentar lagi juga sembuh”.sejak kecil anak laki-laki dikenalkan dengan kejantanan, kuat, serta dikenalkan dengan dunia luar, seakan-akan dunia luar milik laki-laki dan rumah adalah dunia perempuan. Laki-laki dapat melakukan apa saja yang ia mau untuk tumbuh kembangnya diluar sana. Hal ini akan sangat mempengaruhi mental serta fisik anak saat dewasa kelak.
Begitu banyak mitos seputar gender yang berkembang dalam masyarakat kita. Sebagai contoh, perempuan tidak boleh duduk di depan pintu, karena orangorang mempercayai bahwa jika perempuan duduk di depan pintu maka akan menolak jodohnya. Beberapa contoh lagi, apabila seorang istri tidak taat dan tidak patuh pada suaminya maka sang istri dianggap istri yang tidak ideal bahkan diklaim sebagai istri yang durhaka kepada suaminnya. Namun selama ini tidak ada anggapan bahwa suami mendurhakai istrinya. Sebetulnya masih banyak contoh-contoh lain yang masih mengakar dan berkembang pada masyarakat kita. Dalam segi keyakinanpun perempuan masih saja terpinggirkan di bawah kaum laki-laki. Kaum perempuan masih saja dinganggap lemah dibandingkan perempuan,oleh karenanya kaum perempuan masih saja menjadi korban tindak kekerasan dari kaum laki-laki. Dalam masyarakat, bentuk-bentuk kekerasan dapat disebutkan mulai dari dilecehkan, digoda , dipukul , dicerai , sampai kadang mendekati susila sering terniang vditelinga kita ketika perempuan yang telah berkeluarga sering saja dipanggil dengan sebutan nama suaminya sebagai contoh suami u astir bernama pak narto namun para tetangga disekitar mereka sering memanggil ibu astir dengan sebutan bu narto tanpa kita sadari hal ini sama dengan pembunuhan identitas seseorang . dengan adanya panggilan tersebut maka sering orang tidak tahu nama asli perempuan tersebut hal ini juga mengindikasikan masyarakat masih mengganggap kedudukan seorang istri dibawah naungan suami atau hanya sebatas pengikut suami.contoh yag lebihmudah ditemukan dikalangan anak muda atau remaja sekarang apabila kamar perempuan berantakan , kotor awut-awutan maka teman-temannya akan menganggap bahwa perempuan tersebut jorok dan tidak rajin namun apabila hal ini terjadi pada kamar remaja laki-laki maka teman-temannya akan menggangap bahwa ini wajar dan tiak perlu dipermasalahkan.
Begitu banyak ketidakadilan gender yang terjadi dimasyarakat kita namun tidak banyak pula orang-orang yang menyadarinya bahkan ada saja yang setelah mereka menyadari namun mereka hanya sadar sebentar setelah itu mereka akan menjadi biasa kembali tanpa berusaha untuk terus menyetarakan dan mengimbangkan kedudukan mereka dimata laki-laki ataupun perempuan dalam masyarakat.
Kamis, 18 Juni 2009
Selasa, 16 Juni 2009
Sepenggal Malam di Tawangmangu
Kamis, 14 Mei 2009, hingga lewat pukul tengah malam. Dinginnya malam Tawangmangu meninggikan bulu kudukku hingga pori kulitku membuka lebar isyarat, persilakan angin malam masuk ke dalam raga ini.
Hangatnya selimut puri, teduhnya kamar, empuknya singgasana peraduan berlilitkan kain putih lebar, hanya membuat tubuhku panas berkeringat membekaskan peluh. Panas tubuh ini telah membangunkan penjagaan yang baru saja terlelap.
Kuberdiri, tengok sekitar, terlihat sahabat masih terpejam, seakan sedang melakukan peraduan keluh dalam mimpi. Tilas pijakan tubuh ini telah terbanjiri oleh keringat deras yang mengalir lembut dari dalam pori tubuh ini. Kuberjalan menuju pintu kamar coba menyapa dinginnya malam, mengimbau para embun menemani seraya menutupi seluruh peluh yang menempel di tubuh ini. Bak seorang penyair mencari inspirasi untuk menyelesaikan karya besarnya, aku duduk ditemani segelas teh hangat dan sebatang rokok putih mendampingi diriku. Hahahaha, igauan nafsu terbawa belaka.
Terlihat seorang pria renta berkethu oranye, memakai pakaian hangat berkalungkan sarung duduk termenung di depan pintu gerbang puri. Kulitnya yang mulai keriput, tak kuasa menahan dinginnya malam. Angin yang menusuk itu tak membuatnya mundur ke istana kecil di mana anak-istrinya menunggu selalu kehadiran sosoknya. Aku iba terhadapnya, begitu setia ia menunggui kami yang sedang tertidur pulas di balik dinding tebal puri, demi kenyamanan dan kepuasan kami melewati malam.
Angkasa kian perlahan mulai mengubah warnanya. Semula hitam pekat bertabur pernik berkilauan menuju pancaran cahaya silver keemasan yang mincul dari ufuk timur, hingga sang birupun memunculkan kepekatannya.
Aku masih duduk terdiam menikmati semua ini. Tak terasa tubuhku mampu menghempaskan seluruh dingin ini. Hangat kebersamaan inilah yang mampu memberikan segala daya padaku melewati malam ini. Begitu hebatnya hal yang kurasakan kala itu, hingga meneteskan ulu ke pusat rasa yang paling dalam. Rasa yang tak terungkap dalam tarian pena yang tergores. Namun, hanya bisa aku rasakan klimaksnya dalam diriku sendiri.
Apa yang telah kualami dan kurasakan malam itu menyiasati diriku untuk tak berbagi sepatah katapun pada orang lain. Hatiku menggebu, gembira sembari merintih, mengeluh, merasakan dan mengalami kejadian malam itu. Hingga sampai daya terilham kembali entah dari mana untuk menggoreskan tinta pelipur lara ini.
Aku berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberi kesadaran hingga aku dapat merasakan apa yang telah kualami, Orang tua yang selalu berdoa untuk kebaikanku, Bang comonk atas inspirasi tulisannya, Mas-mas komunitas godhong yang telah membimbingku untuk menulis, Senja pratama (yang tak bisa aku sebutkan), Retno budiarti yang………………………………., Penjaga puri yang setia menjaga kami hingga pagi menjelang, Teman-teman seperjuanganku karena kalian adalah keluargaku di sini, Serta seluruh elemen yang telah memberiku spirit serta imajiner dari perannya terhadap hidupku hingga aku dapat menulis.
Masih ada banyak mengenai kesemuaan hal yang aku alami, aku rasakan, aku lewati, aku imaji, aku gagas, aku juang, aku ukir, aku serah yang belum kutuangkan di sini. Semoga apa yang kurasa dan kualami ini tercurahkan pada kita semua.
-ALFplan-
Hangatnya selimut puri, teduhnya kamar, empuknya singgasana peraduan berlilitkan kain putih lebar, hanya membuat tubuhku panas berkeringat membekaskan peluh. Panas tubuh ini telah membangunkan penjagaan yang baru saja terlelap.
Kuberdiri, tengok sekitar, terlihat sahabat masih terpejam, seakan sedang melakukan peraduan keluh dalam mimpi. Tilas pijakan tubuh ini telah terbanjiri oleh keringat deras yang mengalir lembut dari dalam pori tubuh ini. Kuberjalan menuju pintu kamar coba menyapa dinginnya malam, mengimbau para embun menemani seraya menutupi seluruh peluh yang menempel di tubuh ini. Bak seorang penyair mencari inspirasi untuk menyelesaikan karya besarnya, aku duduk ditemani segelas teh hangat dan sebatang rokok putih mendampingi diriku. Hahahaha, igauan nafsu terbawa belaka.
Terlihat seorang pria renta berkethu oranye, memakai pakaian hangat berkalungkan sarung duduk termenung di depan pintu gerbang puri. Kulitnya yang mulai keriput, tak kuasa menahan dinginnya malam. Angin yang menusuk itu tak membuatnya mundur ke istana kecil di mana anak-istrinya menunggu selalu kehadiran sosoknya. Aku iba terhadapnya, begitu setia ia menunggui kami yang sedang tertidur pulas di balik dinding tebal puri, demi kenyamanan dan kepuasan kami melewati malam.
Angkasa kian perlahan mulai mengubah warnanya. Semula hitam pekat bertabur pernik berkilauan menuju pancaran cahaya silver keemasan yang mincul dari ufuk timur, hingga sang birupun memunculkan kepekatannya.
Aku masih duduk terdiam menikmati semua ini. Tak terasa tubuhku mampu menghempaskan seluruh dingin ini. Hangat kebersamaan inilah yang mampu memberikan segala daya padaku melewati malam ini. Begitu hebatnya hal yang kurasakan kala itu, hingga meneteskan ulu ke pusat rasa yang paling dalam. Rasa yang tak terungkap dalam tarian pena yang tergores. Namun, hanya bisa aku rasakan klimaksnya dalam diriku sendiri.
Apa yang telah kualami dan kurasakan malam itu menyiasati diriku untuk tak berbagi sepatah katapun pada orang lain. Hatiku menggebu, gembira sembari merintih, mengeluh, merasakan dan mengalami kejadian malam itu. Hingga sampai daya terilham kembali entah dari mana untuk menggoreskan tinta pelipur lara ini.
Aku berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberi kesadaran hingga aku dapat merasakan apa yang telah kualami, Orang tua yang selalu berdoa untuk kebaikanku, Bang comonk atas inspirasi tulisannya, Mas-mas komunitas godhong yang telah membimbingku untuk menulis, Senja pratama (yang tak bisa aku sebutkan), Retno budiarti yang………………………………., Penjaga puri yang setia menjaga kami hingga pagi menjelang, Teman-teman seperjuanganku karena kalian adalah keluargaku di sini, Serta seluruh elemen yang telah memberiku spirit serta imajiner dari perannya terhadap hidupku hingga aku dapat menulis.
Masih ada banyak mengenai kesemuaan hal yang aku alami, aku rasakan, aku lewati, aku imaji, aku gagas, aku juang, aku ukir, aku serah yang belum kutuangkan di sini. Semoga apa yang kurasa dan kualami ini tercurahkan pada kita semua.
-ALFplan-
Jumat, 05 Juni 2009
Puisi Karya Anak Bangsa
aku adalah aku
rangkaian kecil ekosistem hidup
aku tak tau kau
tak tau dia
tak tau mereka
tak tau kalian
karna aku adalah diriku sendiri
bukan kau
bukan dia
bukan mereka
bukan kalian
inilah takdir kisah hidupku
ku gagas
ku juang
ku ukir
ku serah
meraih keabadian
rangkaian kecil ekosistem hidup
aku tak tau kau
tak tau dia
tak tau mereka
tak tau kalian
karna aku adalah diriku sendiri
bukan kau
bukan dia
bukan mereka
bukan kalian
inilah takdir kisah hidupku
ku gagas
ku juang
ku ukir
ku serah
meraih keabadian
Langganan:
Postingan (Atom)