Kamis, 18 Juni 2009

KETIDAKADILAN GENDER

Bicara soal gender terlintas di benak kita bahwa gender selalu identik dengan perempuan. Namun, sebenarnya gender merupakan suatu konsep yang selalu berusaha membicarakan masalah-masalah sosial laki-laki dan perempuan secara seimbang. Walaupun selama ini terkesan yang dibicarakan hanyalah soal perempuan yang demi memperjuangkangkan hak-haknya karena selama ini dianggap bahwa perempuan masih dibawah laki-laki. Konsep gender itu sendiri dibangun atas sosio kultural dimana hal itu berlangsung terus menerus, berkembang dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat serta sudah melekat didalam masyarakat itu sendiri . Dalam hal ini seorang laki-laki dikenalkan untuk menjadi sosok orang yang kuat, jantan, perkasa, pemberani, rasional, tegas. Sedangkan sosok seorang perempuan dikenalkan kemayu, keibuan, lemah-lembut, apa adanya, emosional, manja, irasional, narimo yang mana sebenarnya sifat-sifat tersebut dapat dipertukarkan satu sama lain. Artinya ada saja laki-laki yang kemayu, lemah lembut, keibuan, tak lain halnya juga parempuan juga ada yang kuat, perkasa, kebapakan, tegas, serta pemberani tanpa harus bertukar jenis kelamin.
Perbedaan gender seharusnya bukanlah menjadi masalah selama hal ini tidak menyebabkan ketidakadilan gender. Namun pada kenyataannya perbedaan gender ini telah menghasilkan suatu ketidakadilan pada kaum laki-laki maupun perempuan akan tetapi ketidakadilan ini lebih banyak terjadi pada kaum perempuan. Dapat kita lihat dari beberapa bentuk ketidakadilan yang sering terjadi pada perempuan antara lain beban kerja yang ditimpakan pada perempuan lebih banyak porsinya dibandingkan kaum laki-laki, tidak hanya mengasuh anak, mencuci, menyiapkan segala keperluan keluarga bahkan ada yang sampai membantu suami mencari nafkah keluarga. Akan tetapi apabila seorang suami telah melaksanakan kewajibannya mencari nafkah kebanyakan waktu dari mereka untuk beristirahat. Cukup jelas disini bentuk ketidakadilan yang terjadi. Pernahkah terbayangkan oleh kita jikalau pekerjaan domestik perempuan seperti memasak, mencuci, mengurus anak dan lain sebagainya yang setiap hari dilakukan oleh mayoritas perempuan dinilai dengan uang, maka sulit kita bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan oleh laki-laki untuk membayar semua itu. Hal-hal kecil seperti inilah yang kadang sering luput dari pikiran kita.
Peran gender bahkan telah diperknalkan sejak bayi lahir, tak lepas juga dari peran keluarga, sekolah, maupun masyarakat dalam mensosialisasikan peran gender ini. Bayi perempuan diberikan pakaian-pakaian yang berwarna cerah, muda, terang, serta lembut, seperti pink, oranye, kuning dan sebagainya serta saat masih kecil dibagian telingannya dilubangi untuk memasang perhiasan. Bayi perempuan diperlakukan secara lembut, dimanja, disayang-sayang, dielus, diproteksi sejak bayi baru saja lahir hingga dewasa seakan-akan dunia luar terlalu berbahaya bagi kaum perempuan. Sementara bagi bayi laki-laki dipilihkan warna-warna yang tajam seperti merah, biru, hitam, abu-abu, dan lain sebagainya. Ketika bayi laki-laki menangis orang tua mereka mengatakan “ anak laki-laki tidak boleh menangis”, serta saat mereka merasa kesakitan orang tua mereka mengatakan “ tidak apa-apa sebentar lagi juga sembuh”.sejak kecil anak laki-laki dikenalkan dengan kejantanan, kuat, serta dikenalkan dengan dunia luar, seakan-akan dunia luar milik laki-laki dan rumah adalah dunia perempuan. Laki-laki dapat melakukan apa saja yang ia mau untuk tumbuh kembangnya diluar sana. Hal ini akan sangat mempengaruhi mental serta fisik anak saat dewasa kelak.
Begitu banyak mitos seputar gender yang berkembang dalam masyarakat kita. Sebagai contoh, perempuan tidak boleh duduk di depan pintu, karena orangorang mempercayai bahwa jika perempuan duduk di depan pintu maka akan menolak jodohnya. Beberapa contoh lagi, apabila seorang istri tidak taat dan tidak patuh pada suaminya maka sang istri dianggap istri yang tidak ideal bahkan diklaim sebagai istri yang durhaka kepada suaminnya. Namun selama ini tidak ada anggapan bahwa suami mendurhakai istrinya. Sebetulnya masih banyak contoh-contoh lain yang masih mengakar dan berkembang pada masyarakat kita. Dalam segi keyakinanpun perempuan masih saja terpinggirkan di bawah kaum laki-laki. Kaum perempuan masih saja dinganggap lemah dibandingkan perempuan,oleh karenanya kaum perempuan masih saja menjadi korban tindak kekerasan dari kaum laki-laki. Dalam masyarakat, bentuk-bentuk kekerasan dapat disebutkan mulai dari dilecehkan, digoda , dipukul , dicerai , sampai kadang mendekati susila sering terniang vditelinga kita ketika perempuan yang telah berkeluarga sering saja dipanggil dengan sebutan nama suaminya sebagai contoh suami u astir bernama pak narto namun para tetangga disekitar mereka sering memanggil ibu astir dengan sebutan bu narto tanpa kita sadari hal ini sama dengan pembunuhan identitas seseorang . dengan adanya panggilan tersebut maka sering orang tidak tahu nama asli perempuan tersebut hal ini juga mengindikasikan masyarakat masih mengganggap kedudukan seorang istri dibawah naungan suami atau hanya sebatas pengikut suami.contoh yag lebihmudah ditemukan dikalangan anak muda atau remaja sekarang apabila kamar perempuan berantakan , kotor awut-awutan maka teman-temannya akan menganggap bahwa perempuan tersebut jorok dan tidak rajin namun apabila hal ini terjadi pada kamar remaja laki-laki maka teman-temannya akan menggangap bahwa ini wajar dan tiak perlu dipermasalahkan.
Begitu banyak ketidakadilan gender yang terjadi dimasyarakat kita namun tidak banyak pula orang-orang yang menyadarinya bahkan ada saja yang setelah mereka menyadari namun mereka hanya sadar sebentar setelah itu mereka akan menjadi biasa kembali tanpa berusaha untuk terus menyetarakan dan mengimbangkan kedudukan mereka dimata laki-laki ataupun perempuan dalam masyarakat.

Tidak ada komentar: